"Kalo gini ceritanya mending gue cuti satu semester deh!" dengus Mona dengan nada kesal. Iren yang melihat tingkah Mona hanya bisa menggeleng kepala.
"Katanya mau nikah muda, masa dapet riset kaya gitu nyerah sih Mon" ejek Iren yang kemudian menghampiri mona lantas berbisik.
"Mon, Sholat dzuhur dulu gih, udah mau jam 3 nih. Biar hati lo adem." Mona lekas berdiri dan melempar bantal ke arah iren. Sebagai seorang sahabat yang mengenal sejak bangku SMP, Iren telah paham sekali dengan watak Mona yang suka meledak-ledak ketika dia tak menemukan solusi untuk masalahnya. Dibalik itu, Mona sebenarnya gadis yang manis. Hanya saja, Mona memang berpenampilan tomboy dengan jilbab pasmina yang menutupi kepalanya. Selama ini Iren selalu memuji keterampilan akademik Mona di kampus, tapi tidak dengan kali ini. Dan Iren tak akan bisa menghalangi kemauan Mona untuk cuti satu semester dengan alasan riset yang menurutnya terlalu sulit.
***
Langkah kaki perlahan memasuki kamar yang lumayan luas. Tak ada yang spesial dari kamar ini. Hanya saja bagian kamar menghadap ke luar rumah semua terbuat dari kaca. Iya, kamar ini yang mendesain sendiri Mona. Selain itu lantainyapun terbuat dari kaca yang di bawahnya terdapat kolam ikan koi. Kolam itu menyatu dengan kolam di samping rumah, hal itu memudahkan jika ingin membersihkan kolam yang terdapat di kamar Mona.
"Non ini susu, buah dan capcaynya. Lekas sarapan, di luar kan hujan" ujar mbok Santi.
"Wah di luar hujan ya mbok, aku mau main hujan deh mbok."
"Walah non, ini masih pagi. Jangan non nanti sakit. Kalo nanti siang masih hujan ndak apa non." larang mbok Santi. Raut wajah Mona berubah tapi ia tak lantas ngambek, karena ia tahu itu untuk kebaikannya.
"Hmm, mbok mamah dan papah udah pergi ya?" tanya Mona sambil menikmati capcay kesukaannya.
"Ya jelas sudah non, ini kan hari senin kalo ndak berangkat pagi banget ya bapak ibu bisa kena macet."
"Iya sih, mbok nyaman kan kerja di sini mbok?" tanya Mona sambil menatap wajah Mbok Santi secara seksama.
"Hoalah non, jangan ditanya kalo itu. Jelas mbok nyaman banget. Lha wong mbok ikut sama bapak ibu dari non umur lima bulan. Mbok juga masih inget non, waktu non usia empat tahun siang hari hujan deres tenan si non mau hujanan dilarang sama ibu malah gk mau makan seharian terus malemnya bapak pulang bawa coklat baru non gk ngambek lagi" ujar Mbok Santi dengan semringah.
"Iya tah mbok? Aku aja sampe lupa. Mona juga sayang mbok." ujar Mona seraya memeluk si mbok. Seketika si mbok mengusap-usap kepala Mona.
"Iyaudh sarapannya diabisin non, mbok mau lanjutin beres-beres dulu."
"Siaaaap mbok!"
Mona langsung melanjutkan sarapannya sambil memandangi hujan yang seang turun pagi itu. Rasanya jika tak ingat nasihat mbok ingin sekali berlari keluar dan bercengkrama dengan hujan. Terlalu banyak pikiran yang ingin ia ceritakan dengan rintik yang turun tanpa beban.
Tak lama dari itu, Mona terpikir dengan sebuah blog yang selalu menjadi teman berceritanya.
***
Rasa dekapan yang lembut.
Dingin sentuhan yang tak sendiri.
Gemuruh kedatangan yang merisau.
Gelap petanda kedatanganmu
Mona langsung memposting puisi yang menjadi media ekspresi jika ia mulai merasa suntuk. Mona memang memiliki hobi yang tak sama dengan gadis seusianya. Ia lebih memilih di rumah cercengkrama dengan laptopnya seperti memposting blog, streaming, googling, dan tentu sosial media seperti instagram dan twitter. Mona juga tidak terlalu addict memposting foto selfie di akun sosmednya. Ia lebih memilih memosting foto-foto yang secara tidak langsung memilik cerita sendiri, seperti senja, langit, tanaman, dan alam lainnya. Mona juga bukan gadis yang hobi jalan-jalan di mall, ia memilih duduk di cafe coffe atau jalan-jalan di taman, pantai, dan tempat menenangkan lainnya. Iren sahabat sudah paham bagaimana Mona dengan segala kelakuan yang ada. Terlebih setiap ke kpus mereka selalu membawa baju cadangan di mobil. Iya, hal itu terjadi karena Mona mempunyai hobi konyol, yaitu hujan-hujanan.
Setelah memosting puisi, Mona terlihat bingung. Ia tidak dapat menemukan ide lagi untuk dituangkan siang itu. Mona memutuskan untuk keluar dan pilihannya jatuh disebuah taman komplek rumahnya.
"Kak aku ada permen, ini untuk kakak satu" ujar anak kecil yang sedang bermain di taman dengan ekspresi cantiknya.
"Wah, terimakasih dik cantik. Nama kamu siapa? Kamu di sini sama siapa?"
"Namaku cantika kak, aku sedang main bersama ibu dan nenek di sana." jawab anak kecil itu sambil menunjuk ke arah ujung taman tempat ibu dan neneknya berada.
"Iyaudah ini permennya kakak terima, kamu kembali ke sana ya nanti dicariin sama ibu dan nenek" jelas Mona sambil menunjuk ke arah ibu dan nenek Cantika berada. Anak kecil itu langsung mengangguk-angguk dan kembali ke ibu dan neneknya berada. Mona siang itu langsung mencari spot untuk duduk dan mencari inspirasi. Tak hanya itu, Mona sibuk mencari objek foto dengan menggunakan ponsel pintarnya. Sesaat duduk di taman Mona mengamati sepasang suami istri dan dua orang anak yang sedang bermain di taman. Memorinya terbang membuka lembaran ketika ia dulu tinggal di Bandung bersama kakak dan orangtuanya. Mona berpikir kapan ia bisa berkumpul tertawa bersama orang yang ia sayangi, kecuali di hari raya itupun jika kakaknya yang sekarang tinggal di Australia bisa pulang. Lamunan Mona semakin lama semakin berjalan jauh dan ia tak sadar jika ada orang di sampingnya.
"Heh Mon!" ujar seseorang yang mengagetkan Mona dari belakang. Mona langsung terkejut dan terbangun dari lamunannya.
"Ih lo ganggu khayalan gua aja sih ren!" Ujar Mona nada kesal.
"Yee, gitu aja ngambek." goda Iren sambil mencubit pipi Mona. Mona seketika memasang muka duck face menanggapi pernyataan Iren.
"Eh, lo ngapain di sini ren? Ngikutin gua yaaa."
"Yee, ge'er. Emang kalo jomblo itu hobi kege'geeran."
Mona yang mendengar perkataan Iren langsung mencubit lengan Iren dan membuat Iren meringis kesakitan.
"Sahabat lo ini jomblo bukan gak laku tapi jomblo pilihan." jawab Mona sambil merapikan hijabnya. Seketika Mona dan Iren tertawa bersamaan. Iya, untuk urusan pasangan Iren lebih unggul dibandingkan Mona. Iren sudah menjalin hubungan serius bersama Agha sudah berjalan 6 tahun yang sedang menjalani pendidikan profesi dokter. Berbeda dengan Mona yang terakhir menjalani hubungan semasa bangku SMA kelas dua, itupun ketika Mona belum berhijab.
"Ren, kayanya gua harus pergi deh, mamah gua udah sms nih udah janjian. "ujar Mona.
"Yah, gua baru dateng lo mau pergi. Huh. Gak asik." jawab Iren menunjukan wajah cemberut.
"Jangan cemberut gitu, nanti Agha kabur lho. Besok siang gua traktir kopi di tempat biasa deh." janji Mona kepada Iren sambil mencium pipi Iren. Iren langsung mengiyakan perkataan Mona. Mona pun bergegas menuju restoran yang sudah disepakati oleh orangtuanya.
***
Sepasang mata Mona terus bekerja keras mencari orangtua di sebuah restoran yang cukup terkenal di Jakarta. Sampai akhirnya Ia menemukan sosok yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini. Mona bergegas menghampiri Orangtuanya yang mungkin sudah sedari tadi menunggu kehadirannya.
"Assalamualaikum mah." Ucap Mona sembari mencium punggung tangan mamahnya.
"Waalaikumsalam, kamu dari mana kok lama?"
"Maaf mah, tadi Mona dari taman dulu sebentar jadi lama deh." Jawab Mona dengan wajah memelas.
"Iyaudh, kamu minum dulu pasti capek kan."
Mona menganggukan kepala dan lekas menyeruput orange jus yang sudah dipesan. Ada yang aneh dari makan siang hari ini. Setelah beberapa saat Mona baru menyadari jika papahnya tak ikut makan siang bersama.
"Mah, papah kemana? Kok gak ada di sini?"
"Papah kamu... Papah kamu masih ada kerjaan jadi gak bisa ikut kita makan sayang."
"Oh iyaudh, ini Mona makan ya mah?"
Mamah Mona seketika menjawab pertanyaan puterinya dengan isyarat senyuman di wajahnya. Mungkin ini kesekian kalinya papah tidak bisa ikut makan siang bersama. Tapi bagi Mona itu bukan masalah, yang terpenting kedua orangtuanya akur dan tetap mendampinginya hingga ia sukses dan bisa membahagiakan mereka kelak. Mona sangat takut dan tidak bisa membayangkan bagaimana nasip anak-anak di luar sana yang menjadi korban perceraian kedua orangtuanya. "Walaupun Papah dan Mamah jarang di rumah tapi Mona yakin mereka baik-baik saja." Ujar Mona dalam hati sembari menikmati makan siangnya kali ini.
***
To be continued sheet 2 (boys)
Komentar
Posting Komentar