Sebuah Surat Jawaban (VII)

(Sumber Gambar: Linedeco.com)

"Klik .. Klik .. Klik .."
Suara mouse sedari tadi menemaniku siang ini. Pekerjaan yang sudah aku rampungkan sejak jam sebelas tadi membuat aku tenang. Setidaknya ketika bos lewat aku sudah bisa berkata tugasku sudah selesai hari ini. Aku sibuk membuka file foto dari ekspedisi ekstrimku tempo hari di Pantai Indrayanti. Ekspedisi ekstrim, iya aku nekat ke pantai sedini hari untuk menyaksikan matahari terbit dan bersantai hingga matahari terbenam. Tapi semua iti terbayang mahal oleh kesan yabg aku nikmati di sana. Tenang, indah, dan alami. Hari ini aku mengirimkan file foto kepada sepasang kekasih yang aku jumpai di pantai. Foto asli dan yang sudah aku edit sedemikian rupa, dan hasilnya semacam foto prewed. Aku tertawa geli melihat pose-pose mereka.  Bahkan mungkin dua bulan lagi aku akan mendapat job foto prewed dari seorang sepupu di Surabaya. Menurutku foto prewed itu lucu, melihat sepasang kekasih berpose agar nampak serasi, padahal keserasian tak hanya dilihat dari pose kamera saja. Bayangkan jika bertemu lelaki kaku yang entah bagaimana ekapresinya ketika di depan kemera. Jangankan untuk berpose candid atau lainnya, melontarkan senyum alami saja susah. Terkadang aku harus memutar ide bagaimana mereka bisa mengeluarkan ekspreai alami, iya tentu selain kepandaian mengambil  sudut yang baik.
"Foto siapa itu Nay? Aku baru lihat. Klien baru?" ujar Ranti yang mengagetkan aku. Aku bahkan tak sadar jika sedari tadi Ranti mengamatiku secara diam-diam.

"Ini bukan klien Ran, ini orang yang minta tolong waktu di pantai kemarin. Handphonenya mati jadilah pake kameraku."

"Coba lihat, siapa tau kenal."

"Lucu nih, yang cewe kaku yang cowo malah pose-able." ujarku sambil menunjukan salah satu foto kepada Ranti.

"Kayanya aku pernah tau deh Nay tapi aku lupa.  Iya asli yang cewe kaku."

Aku mengangguk-angguk perkataan Ranti sambil tertawa terkecil.Ranti memang terlalu sering berkata pernah tau, semua orang dianggapnya sering dilihat olehnya. Tapi iya itulah Ranti.
"Aku mau Nay foto kaya gini ya."

"Sama siapa? Kamu udah punya calon? Kok gak cerita?"

Mendengar pertanyaanku Ranti hanya menggeleng dan aku lantas tertawa yang mengakibatkan beberapa staf melihat ke arah alami.

"Cari aja dulu patner pose-nya nanti kalo udah ketemu kamu bilang sama aku, gratis." bisikku kepada Ranti.

Ranti, teman yang kemudian menjadi dekat setelah aku satu pekerjaan dengannya. Menjadi tukang foto hanyalah sampinganku dan sekaligus sebuah hobi. Bahkan, untuk pernikahan Gantan tadinya aku ditawari sebagai tukang foto tapi aku tolak secara halus dengan berbagai alasan yang aku karang sendiri.
"Aku tanggal segitu ada kerjaan Tan. Maaf."

Rona kecewa nampak di wajah Gantan ketika itu, tapi itu semua aku lakukan demi kita, demi acara itu, dan demi semuanya.

Sejak kejadian di sebuah cafe dahulu sempat ada celah yang membatasi Gantan dan aku. Semacam sama-sama menjauh, tapi aku yang paling mendominasi. Kejadian yang membuat aku kalap hingga membuyarkan segalanya. Ketika itu Gantan nampak marah sekali, dan aku belum pernah melihat Gantan semarah itu. Aku menangis sejadi-jadinya dan untung saja aku masih bisa menahan emosiku ketika aku pulang ke rumah.

Lima bulan setelah kejadian itu, aku memutuskan bertemu Gantan dan dia menyerahkan sebuah surat berisi amplop yang akhirnya mengiringku untuk pergi ke Yogya. Lantas apa aku menjauh (lagi) setelah itu? Tentu tidak. Aku sudah menjadi Nay yang dulu, Nay yang selalu ada untuk Gantan dalam siatuasi apapun. Walaupun kami berjauhan tetapi aku selalu memantau Gantan lewat sosial media dan tak lupa aku selalu meminta penjagaan kepada-Nya lewat doa. Sampai kapan? Sampai waktunya tiba aku benar-benar melepasnya. Melepas untuk kebaikanku, dan kebaikan Gantan.

Jika tidak lewat doa, lalu dengan apa?
Membisik pun tak ayal terusik.
Tersenyum pun wajah meranum.
Tak ada, kita.

Aku tetap ada, walaupun fisik aku tak di sampingmu. Semua sudah ada konsekuensinya bukan. Aku yakin aku akan bertemu kebahagianku sendiri, suatu hari nanti. Aku tak pernah egois perihal rasa, dan aku lantas mengubur (r)asa itu dalam-dalam dan berharap ada bibit baru yang akan kusemai.

...................


Biarkan aku pergi tanpa pergi, meninggalkan cinta yang terlalu indah.
Aku tak bisa lagi selalu berpura-pura ..
(Kahitna: Kekasih dalam Hati)

To be continued ..

Cerita sebelumnya klik di sini 


Komentar

  1. dibikin novel aja ini tulisan, udah episode ke tujuh X)

    BalasHapus
  2. Ajukan ke penerbit. Semoga di acc ya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah terimakasih sudah mampir, tapi belum berani masih belajar :)

      Hapus

Posting Komentar