De (sad) mber

 

Hai, apa kabar? Bagaimana harimu di penghujung tahun 2021 ini? Ah, semoga tak sepertiku ya.

Setelah sekian lama, akhirnya ingatanku tentang luka kini kembali ada; terasa. Tulisan ini mungkin akan terlihat menyedihkan tapi aku berusaha untuk tidak terlihat sedih. Sungguh luar biasa memiliki teman-teman yang baiknya tidak main-main.

Mas, ini tulisan keduaku di blog ini yang bercerita tentangmu. Sempat terbesit di kepalaku bahwa seharusnya aku tak pernah mengizinkan kamu masuk di hidupku lebih jauh, bahkan walau hanya di depan pintu. Mungkin, sebanyak kisah yang sudah kulalui mempercayaimu adalah hal terbodoh yang pernah aku alami. Iya, mempercayai orang yang wujudnya saja belum pernah aku temukan. Ini lucu, di kesempatan ini mungkin aku sedang menertawakan diriku sendiri.

Dulu, ketika pertama kali aku mengenalmu lewat ketidaksengajaan tak terbesit sama sekali bahwa pada akhirnya aku bisa memiliki perasaan lebih. Ketika kamu sedang sering membuatku tertawa padahal sebabnya bisa saja sederhana. Ketika suaramu terdengar hingga adzan subuh mulai menyapa. Ah. Hahhaha

Aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan bagaimana perasaanku selama ini. Aku bahkan lupa rasanya bisa menyayangi seseorang sebelum tulisan ini ada. Mungkin ketika kamu membaca ini kamu akan bergumam, “Harusnya jangan berekspetasi apapun.” Sejujurnya aku takkan berekspetasi jika di awal kamu tidak memberikan harapan apapun. Sejujurnya, aku takkan mungkin menyayangimu jika kamu tak meminta. Masih bisa kuingat, saat kamu meneleponku menjelang malam memasuki bulan April dan kamu berbicara agar aku bisa menyayangimu dan tentang kamu yang mulai menyayangiku. Dan, sekarang kamu berujar, “Aku belum bisa sayang.” Kebohongan macam apa yang telah kamu ciptakan hingga membuat aku berantakan; sendirian.

Tidak, tidak akan aku menyalahkanmu perihal kamu ingin menemukan sosok yang ideal menurutmu. Iya aku paham, aku mengerti. Tapi, tidakkah kamu menyadari bahwa membuat perempuan merasa istimewa padahal biasa saja itu termasuk hal yang jahat? Ah, kamu pasti tidak merasa demikian hahahaha.

Seberapa banyak yang yang tiba-tiba membenciku ketika aku di dekatmu? Seberapa kuat aku harus menerima sindiran dari orang-orang yang berada di dekatmu? Seberapa besar sabarku dipandang kasihan oleh teman-teman virtualmu itu? Seberapa tahan aku harus menunggumu tanpa kejelasan meski akhirnya ya seperti ini; membuang waktuku yang tidak sebentar.

Bahkan sampai saat ini, aku tidak percaya bahwa perempuan yang kamu dekati bukan hanya aku bahkan banyak sekali. Prioritas, katamu ada yang diprioritaskan nyatanya semua porsinya sama. Padahal selama ini aku selalu bertanya supaya fokusku tidak hanya kamu. Justru, jujurmu terbuka saat aku sudah tak mendekat dengan siapa-siapa. Entah, itu sesak ke berapa yang kamu buat. Hahaha.

Kecewaku lebih-lebih bukan tentang kita yang tidak bisa bersama, bukan tentang kamu yang nggak bisa sayang aku; ini tentang seberapa banyak waktu yang aku buang dan seberapa banyak kita menyakiti banyak orang. Aku nyakitin orang lain, kamu menyakiti banyak orang juga. Seharusnya, sejak lama kamu lebih berani untuk berhenti lebih cepat, tak berlarut hinga luka makin kuat.

Satu hal yang tidak kamu ketahui yang seharusnya aku bilang dari awal adalah aku sosok wanita lemah yang sama sekali tidak bisa dibuat sedih terlalu lama.  Tak bisa aku jelaskan, ketika sedihku berlarut maka ada nyawa yang sedang aku pertaruhkan secara tidak sengaja. Aku sehat secara medis, tapi tidak bagi mereka yang tak terlihat. Ini bukan mencari perhatianmu, tapi ini adalah hal yang selama ini aku tutupi, sengaja. Sudah bisa kubayangkan jika aku jujur maka kamu akan berujar, “Ah, baru gini doang sedih gimana mau masalah lain.” Hahaha iyakan? di sisi ini kamu membuat sedihku berulang-ulang, ah untung pertahananku kuat. hahaha

Sudah ya mas, semoga kamu tak lagi menyakiti siapapun, mungkin saja niatmu baik tapi caramu yang salah. Sudah ya, semoga aku tak mendapat cerita lagi secara tidak sengaja ada perempuan lagi yang merasa tersakiti. Satu hal, mencari yang terbaik tak harus melukai orang lain.

Sudahlah, tak apa. Ini hanya tulisanku di ujung Desember  tentang aku dan kamu serta kebodohan-kebodohan yang kita ciptakan. Tentangmu pasti tak melulu keburukan yang membekas, meski kecewa berteriak paling keras. Terima kasih: telah bisa membuatku memutuskan menyayangi seseorang lagi setelah lebih dari 7 tahun aku tak ingin menyayangi siapa-siapa. Terima kasih; telah mengajarkan aku untuk menilai dari berbagai sisi cara berpikir. Terima kasih; telah menjadi alarm sholat tepat waktu dan makanku. Terima kasih; telah membangkitkan ingin-inginku yang selama ini tidak ingin, kamu pasti paham maksudnya ini apa. Terima kasih; telah menemaniku selama nyaris setahun ini. Terima kasih; telah menjadi bagian kisah yang sebenarnya tidak ada. Terima kasih, mas Angga.

Tak bersamamu tak apa, ini hanya masalah kecewaku terhadap waktu yang terbuang percuma; pun tentang bohong-bohong yang selama ini aku diam saja.

Bandarlampung, 30 Desember 2021

 

Renja Naika Nakana.

Komentar