Jika Boleh Berjuang, Lari Akan Terus Kulakukan

 

Udah weekend aja ya, ini malam minggu; kamu sedang apa? Seperti biasa, malam ini aku sedang duduk di depan laptop dan membalas beberapa chat lucu dari teman-temanku. Kali ini aku ingin menulis untuk seorang teman laki-laki yang biasa aku panggil adik. Sebuah perjalanan tak semuanya menyenangkan, tapi menjumpai batu yang tak berkesudahan; terkadang menakutkan.

...

Rasanya nyaris setiap hari di sini hujan. Katanya kalau hujan kita tak boleh terlalu mengeluh sebab hujan adalah bagian dari berkah. Ingatanku rasanya meluncur ke beberapa tahun lalu, saat hujan diam-diam menjadi saksi bisu. Hujan, di mana akan banyak orang yang aktivitas terganggu, tak terkecuali aku dulu. Selepas SMA, tak terpikir untuk menginjak apa itu belajar tingkat sarjana. Aku langsung bekerja, memutar kepala untuk membiayai sebagian besar nafkah keluarga. Pekerjan pertamaku adalah ojek online. Seumurku yang baru lulus sekolah ini; yang biasa uang hanya perlu membalikan tangan dan menyebutkan nominal, kini harus mengeluarkan tenaga untuk upah yang dibayangkan. Seumurku yang dulu sudah menyebutkan mimpi-mimpi bersama teman-teman untuk bisa melanjutkan pendidikan, kini harus memenuhi kebutuhan. Seumurku yang masih muda ini. Iya aku muda, belum dua puluh tahun saat itu.

Setiap pagi rasanya berat sekali untuk memulai aktivitas, mengeluarkan motor dan berjibaku dengan dinginnya udara pagi. Iya, berharap akan kudapati rejeki-rejeki yang lebih banyak daripada waktu tidurku. Entah berapa drama yang sudah kulalui perihal penumpang, apalagi di saat hujan. Orderan seketika lompat sasaran dengan jarak tempuh yang tak masuk akal.  Belum lagi pesanan fiktip ketika aku sudah ada di titik tujuan, syukurnya aku tak menemukan apa itu penipuan. Tuhan masih melindungiku saat itu. Ah, bersyukur sekali meski tangisku terkadang pecah tak mudah dipercayai. Ketika ada penumpang mahasiswa aku sempat bergumam lantas bertanya; harusnya aku juga ada di posisi itu. Posisi yang aku idamkan, menjadi mahasiswa menikmati apa itu belajar yang selanjutnya. Sesak rasanya, tapi berkeluh secara terus-terusan tak pantas dilakukan oleh laki-laki. Ada beban lain di pundak ini, ada sekolah adikku pun kebutuhan keluargaku yang tak mungkin dibiarkan begitu saja. Tak apa, tangisku ini hanya sementara; jalan Tuhan pasti ada.

Waktu masih sekolah, rasanya ingin ini-itu hanya perihal waktu. Jika dirasa harga masih masuk akal, barang yang kumau mudah dikepal. Pun jika tidak, aku masih menabung. Uang jajan di zaman itu dengan nominal paling sedikit lima puluh ribu tentu bukan uang yang kecil. Aku hanya perlu tidak jajan dan membiarkan uang menjadi tabungan. Hahaha tidak semudah itu, nyatanya uang akan lebih mudah habis, entah untuk apa. Iya, aku terlalu terbiasa ada. Terlalu terbiasa untuk menerima semuanya. Hingga suatu saat ekonomi jatuh, isi kepala seketika runtuh. Runtuh, semua runtuh. Hilang, satu per satu hilang. Teman hilang, uang hilang, dan semua-semua yang biasa ada sisanya entah ke mana.  

Hidup rasanya tak adil, jika bisa ingin aku memaki semuanya. Marahku menggebu-gebu saat itu. Marah kepada orang tua, marah kepada Tuhan, dan marah kepada diri sendiri. Ingin aku menyalahkan semuanya, tapi percuma; untuk apa? Toh kembali seketika itu hanya khayalan semata. Satu tahun aku melakoni profesi sebagai kang ojek. Segala garam di dunia perpenumpangan sudah kulalui hingga suatu hari aku diterima di sebuah perusahaan. Sales, pekerjaan yang menawarkan barang sana-sini. Hahaha mimpi aku ada di posisi ini. Berusaha memenuhi target penjualan, memasakan dagangan, pun meyakinkan pelanggan agar tak hilang orderan. Lelah itu pasti, menyerah sama saja bunuh diri. Aku memiliki teman, Riski namanya. Mungkin dia satu-satunya saksi, bahwa diri ini juangnya setengah mati. Pun keluhanku jumlahnya tak terhitung lagi, mungkin muaknya sudah menjadi makanan sehari-hari; untukku. Bagaimana nasip sekolah adikku jika aku tak berusaha sekuat ini. Kakak macam apa yang membiarkan adiknya putus sekolah. Segeram-geramnya aku melihat kelakuannya yang terkadang semena-mena tapi aku amat menyayanginya. Kelak aku ingin dia paham, bahwa jalannya dunia tak semudah dambaan; kadang ada tenggelam.

Akhirnya satu bebanku selesai, kelulusan adikku penanda satu masalah sudah bisa didamai. Bermodal tabungan yang sudah ada, aku memutuskan untuk resign dari pekerjaan sebagai sales perusahaan. Saat itu juga aku memutuskan untuk merasakan bagaimana kursi perkuliahan. Iya, aku  mendaftarkan diri di salah satu kampus swasta. Kampus yang tidak banyak orang ketahui. Managemen bisnis, aku mengambil jurusan tersebut. Ada banyak sekali keinginan di kepala perihal usaha-usaha yang ingin aku lakukan menggiringku untuk mengambil jurusan tersebut. Tak kusangka, kini mahasiswa menjadi statusku yang utama. Ini seperti mimpi, tapi usahaku sampai sini melewati berbagai nyeri.

Sembari kuliah, aku mencoba berbagai usaha. Rasanya sia-sia jika uang tabungan dibiarkan beku begitu saja. Pertama aku mencoba usaha baju thrifting, sulit dipercaya dengan market yang luar biasa gagal masih bisa aku terima. Tak apa, ini baru pertama. Kulanjutkan untuk membuka  usaha kurir sendiri, menjadi pengantar barang atau pesanan dari para pemilik usaha. Nasip baik belum bisa kupangku, gagal masih ikut bersamaku. Bahkan usaha saffron  yang sedang hangat-hangatnya pun telah aku coba dan jangan tanya bagaimana hasilnya; tak ada. Sampai akhirnya aku kembali ke dunia sales sengan status freelance. Hahaha tabunganku habis, pikiranku rumit ingin menangis. Bagaimana dengan kuliahku? Apa yang salah dengan caraku berusaha? Rasanya tak bisa disebut apes jika berulang-ulang kegagalannya. Aku menghela napas panjang, isyarat lelah yang tak berkesudahan.

Statusku kini mahasiswa dengan freelance yang berputar di dunia sales yang ada. Sekuat aku mengumpulkan tabungan lagi, entah usaha apa yang harus aku siapkan kini. Belum terpikir, takut gagal adalah capaian akhir. Bagaimana jika nanti aku tak bisa memutarkan semua mimpi? Bagaimana jika mimpi itu hanyalah mimpi tanpa ada nyata yang dikuti? Bagaimana jika aku tak berakhir menjadi siapa-apa? Bagaimana jika orang tuaku tak bangga memilikiku? Bagaimana jika anak lelaki pertamanya tidak bisa mengangkat derajat keluarganya? Hahaha rumit sekali. Isi kepalaku rungsing, telingaku bising; oleh teriakan-teriakanku sendiri. Mimpiku banyak; inginku mewujudkannya meski rasanya belum layak. Inginku bisa memimpin sesuatu dan aku kepalanya; pun sebisaku mengatasi masalahnya. Hahaha khayalanku mulai tak bernyawa.

Usahaku harus bagaimana, agar keluargaku kembali seperti semula. Terkadang kakiku lelah, tapi masa depan membuat takut hingga pikiranku tak berarah. Aku sama sekali tak memiliki waktu untuk diriku sendiri, setidaknya perihal hati. Hahahah apa itu hati? Apa itu wanita? Saat jatuhku berkali-kali barangkali harus ada wanita yang menemani? Ah lelucon macam apa itu. Aku tak selemah itu, meski di titik tertentu aku memang lemah. Ada duka di hati yang membuat aku tak lantas bisa melihat wanita untuk kepercayai. Aku yang sering dibuat luka membuat pertahanan diriku menjadi tidak mudah percaya. Aku yang dulu mudah meletakkan rasa, hingga tak terpikir untuk benar-benar bisa jatuh cinta. Sampai akhirnya aku mengenal satu nama, wanita; dia berbeda.

Sebut saja dia Tina, wanita yang sebenarnya aku tak memiliki ekspetasi apa-apa tentangnya. Tak kupercaya ada wanita semanis dia, untuk aku yang bukan siapa-siapa. Hadirnya seperti memberikan energi baru; yang sedikit mulai membeku. Aku merasa disayangi meski sosoknya jauh dari dekapan diri: pun mata yang belum mampu menatap pasti. Aku merasa istmewa, meski aku belum bisa membuatnya bangga. Aku merasa ada di titik beruntung, meski pencapaianku belum bisa dihitung. Aku, mulai menyayanginya. Tak ada niat untuk aku membuatnya kecewa, pun membiarkan dia berpikir aku tak ada saja tak ingin. Jika aku nanti mulai salah, semoga dia tak mudah menyerah dan meninggalkanku tanpa penjelasan yang susah. Aku, menyayanginya; tanpa berekpetasi apa-apa. Membiarkan semuanya mengalir tak berarti aku membiarkan diri sendiri. Akan kutemani, semampuku dan semampunya untuk melewati apa-apa yang menghampiri. Jika nanti berakhir, anggap saja takdir. Jika tetap bersama, berarti memang dia orangnya.

Panjang sekali, liku-liku hidup untuk aku yang terbilang muda ini. Tak seberat sebelumnya, tapi masih ada beban yang tetap mengudara; di kepala. Tak apa, aku menerima. Pun terus mengusahakan semampu kubisa. Jika boleh berjuang, lariku akan terus kulakukan. Sesekali aku akan berhenti, duduk, minum, dan berjalan lagi; menerima semua yang kujumpai. Tuhan tak mungkin membiarkan keringatku jatuh tak berkesudahan. Prasangka baikku akan tetap ada, meski ekspetasiku turun agar tidak kecewa. Doa orangtua pasti tak sia-sia; untuk anak lelaki pertama. Pun, doa wanita yang katanya selalu ada; hahaha iya aamiinkan saja. Berapa banyak kata menerima dan mimpi di tulisan ini? Iya, itu yang aku rasakan. Aku menerima semua ujian Tuhan. Tuhan pasti baik, dan selalu baik. Tidak ada luka yang terus dibiarkan menganga, kecuali kita berhenti berusaha. Doakan aku; agar mimpiku bisa menyata; dan kalian saksinya. Aamiin.

 

Kedaton, 22 januari 2022; untuk Rico.

Komentar